Wahyudi " si beseck" Kurniawan

06 June 2011


pelaksanaan lapis aspal beton (laston)

TATA CARA PELAKSANAAN LAPIS ASPAL BETON (LASTON)UNTUK JALAN RAYA BAB IDESKRIPSI 1.1

Maksud dan Tujuan
1.1.1 Pembuatan Lapis Aspal Beton
(Laston)
dimaksudkan untuk mendapatkan suatu lapisanpermukaan atau lapis antara pada perkerasan jalan raya yang mampu memberikan sumbangandaya dukung yang terukur serta berfungsi sebagai lapisan kedap air yang dapat melindungikonstruksi di bawahnya.1.1.2 Sebagai lapis permukaan, Lapis Aspal Beton harus dapat memberikan kenyamanan dankeamanan yang tinggi.1.1.3 Lapis Aspal Beton dibuat melalui proses penyiapan bahan, pencampuran,pengangkutan, penghamparan serta pemadatan yang benar-benar terkendali sehingga dapatdiperoleh lapisan yang memenuhi persyaratan dalam Petunjukini serta sesuai dengan Gambar Rencana.


1.2 Ruang Lingkup
Petunjuk ini mencakup uraian mengenai definisi/istilah, cara pelaksanaan (pencampuran,penghamparan, pemadatan), pengendalian mutu serta hal lain yang berkaitan; di mana hal-haltersebut, baik sebagian atau seluruhnya, dapat dijadikan bahan dalam penyusunan spesifikasiuntuk pekerjaan yang dikontrakkan ataupun ebagai pegangan dalam pelaksanaan untuk pekerjaan swakelola.
1.3 Definisi, Singkatan dan Istilah
1.3.1 Aspal keras adalah suatu jenis aspal minyak yang merupakan residu hasil destilasiminyak bumi pada keadaan hampa udara, yang pada suhu normal dan tekanan atmosfir berbentuk padat.1.3.2 Aspal cair adalah aspal minyak yang pada suhu normal dan tekanan atmosfir berbentuk cair, terdiri dari aspal keras yang diencerkan dengan bahan pelarut.1.3.3 Aspal emulsi adalah satu jenis aspal yang terdiri dari aspal keras, air dan bahanpengemulsi, di mana pada suhu normal dan tekanan atmosfir berbentuk cair.1.3.4 Agregat adalah sekumpulan butir-butir batu pecah, kerikil, pasir atau mineral lainnya,baik berupa hasil alam maupun hasil buatan.1.3.5 Agregat halus adalah agregat yang lolos saringan No. 8 atau 2,38 mm.1.3.6 Agregat kasar adalah agregat yang tertahan pada saringan No. 8 atau 2,38mm.1.3.7 Bahan pengisi adalah bahan berbutir halus yang lolos saringan No. 30 dimanapersentase berat butir yang lolos saringan No. 200 minimum 65%.1.3.8 Gradasi menerus adalah suatu komposisi yang menunjukkan pembagian butir yangmerata mulai dari ukuran yang terbesar sampai dengan yang terkecil.1.3.9 Kelelehan (flow) adalah besarnya perubahan bentuk plastis suatu benda uji campuranberaspal yang terjadi akibat suatu beban sampai batas keruntuhan,dinyatakan dalam satuan panjang.1.3.10 Lapis Aspal Beton
(Laston)
adalah suatu lapisan pada konstruksi jalan raya, yangterdiri dari campuran aspal keras dan agregat yang bergradasi menerus,dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada suhu tertentu.1.3.11 Pengujian Marshall adalah suatu metoda pengujian untuk mengukur stabilitas dankelelehan plastis campuran beraspal dengan menggunakan Marshall.

1.3.12 Rongga di dalam campuran (VIM)* adalah perbandingan volume % rongga terhadapvolume total campuran padat, yang dinyatakan dalam %.1.3.13 Rongga di dalam agregat (VMA)* adalah volume rongga yang terdapat diantara butir-butir agregat suatu campuran beraspal padat, termasuk rongga yang terisiaspal efektif, dinyatakan dalam % volume.1.3.14 Rongga terisi aspal (VFB)* adalah % volume rongga di dalam agregat yang erisi aspalefektif.1.3.15 Stabilitas adalah kemampuan maksimum suatu benda uji campuran aspal dalammenahan beban sampai terjadi pelelehan plastis, dinyatakan dalam satuan beban.1.3.16 Terak adalah bahan buangan pada proses peleburan bijih besi.1.3.17 UE 18 KSAL atau Unit Equivalent 18 Kips Single Axle Load, adalah satuan ekivalenbeban as tunggal kendaraan 18.000 pounds.1.3.18 Ukuran maksimum nominal adalah ukuran saringan terbesar dimana agregat mulaitertahan.* VIM = Voics I'll Nli;:VMA = Voids in Mineral AggregatesVFB = Voids Filled with Bitumen
BAB IIPARAMETER 2.1 Bahan2.1.1 Umum
2.1.1.1 Bahan hanya oleh digunakan apabila telah dilakukan pengujian dan memenuhipersyaratan.2.1.1.2 Sebelum memulai pekerjaan, terlebih dahulu harus disiapkan persediaan bahan dalamjumlah yang cukup untuk menjaminkesinambungan pekerjaan.2.1.1.3 Untuk menjamin keseragaman campuran, sebaiknya menggunakan bahan dari sumber yang tetap.
2.1.2 Agregat Kasar
2.1.2.1 Agregat kasar harus terdiri dari batu pecah atau kerikil pecah yang bersih, kering,kuat, awet dan bebas dari bahan lain yang mengganggu serta memenuhi persyaratan sebagaiberikut :a. Keausan pada 500 putaran (PB.0206-76 Manual Pemeriksaan Bahan Jalan) : maksimum40%.b. Kelekatan dengan aspal (PB.0205-76 MPBJ) : Minimum 95%. c. Jumlah berat butirantertahan saringan No. 4 yang mempunyai paling sedikit dua bidang pecah (visual) : Minimum50% (khususuntuk kerikil pecah).d. Indeks kepipihan/kelonjongan butir tertahan 9,5 mm atau 3/8" (British Standards - 812) :Maksimum 25%.e. Penyerapan air (PB.0202-76 MPPBJ) : Maksimum 3%.f. Berat jenis curah (bulk) (PB.0202-76 MPBJ) : Minimum 2,5 (khusus untuk terak).g. Bagian yang lunak (AASHTO T-189) : Maksimum 5%. 2.1.2.2 Agregat yang digunakan harus dari sumber dan jenis yang sama.
2.1.3 Agregat Halus

2.1.3.1 Agregat halus harus terdiri dari pasir alam atau pasir buatan atau pasir terak ataugabungan daripada bahan-bahan tersebut.2.1.3.2 Agregat halus harus bersih, kering, kuat, bebas dari gumpalangumpalan lempung danbahan-bahan lain yang mengganggu serta terdiri dari butir-butir yang bersudut tajam danmempunyai permukaan yang kasar.2.1.3.3 Agregat halus yang berasal dari batu kapur pecah hanya boleh digunakan apabiladicampur dengan pasir alam dalam perbandingan yang sama kecuali apabila pengalamantelah menunjukkan bukti bahwa bahan tersebut tidak mudah licin oleh lalu lintas.2.1.3.4 Agregat halus yang berasal dari hasil pemecahan batu, harus berasal dari batuan induk yang memenuhi persyaratan Agregat Kasar kecuali persyaratan c dan d.2.1.3.5 Agregat halus harus mempunyai ekivalen pasir minimum 50%(AASHTO T 176).
2.1.4 Bahan Pengisi
2.1.4.1 Apabila diperlukan, bahan pengisi harus terdiri dari abu batu, abu batu kapur, kapur padam, semen (PC) atau bahan non plastis lainnya.2.1.4.2 Bahan pengisi harus kering dan bebas dari bahan lain yang mengganggu dan apabiladilakukan pemeriksaan analisa saringansecara basah, harus memenuhi gradasi sebagai berikut:
TABEL 1Gradasi Bahan Pengisi
Ukuran Saringan Persentase Berat yang lolosNo. 30 (0,590 mm) 100No. 50 (0,279 mm) 95 ± 100No. 100 (0,149 mm) 90 ± 100No. 200 (0,074 mm) 65 ± 100
2.1.5 Agregat Campuran
2.1.5.1 Agregat campuran harus mempunyai gradasi yang menerus mulai dari butir yangkasar sampai yang halus, dan apabila diperiksa dengan cara PB.0201-76 MPBJ harusmemenuhi salah satu gradasi sebagaimana yang tercantum pada Tabel 2.2.1.5.2 Agregat campuran yang diperoleh melalui pencampuran menurut proporsi yangdiperlukan untuk rumusan campuran kerja, harus mempunyai ekivalen pasir yang tidak kurang dari 50% (ASTHO T 176).
2.1.6 Aspal
Aspal untuk Lapis Aspal Beton harus terdiri dari salah saw aspal keras penetrasi 60/70 atau80/100 yang seragam, tidak mengandung air, bila dipanaskan sampai dengan 175°C tidak berbusa, clan memenuhi persyaratan sebagai yang tercantum pada Tabel 3.
2.1.7 Bahan Tambahan Aspal (Asphalt Additive)
Apabila untuk membantu pelekatan/anti pengelupasan, dipandang perlu bahan tambah makabahan tambah harus terdiri dari bahan yang telah terbukti baik, dan harus ditambahkankedalam aspal serta diaduk secara seksama sesuai dengan petunjuk yang diberikan olehpabriknya sehinggadiperoleh campuran yang seragam.
TABEL 2BATAS-BATAS GRADASI MENERUS AGREGAT CAMPURAN
Catatan :No. Campuran : I, III, IV, VI, VII, VIII, IX, X dan XI digunakan untuk lapis permukaan.

No comments:

Post a Comment